Rabu, 25 April 2012



BUDIDAYA PADI SISTEM JAJAR LEGOWO
Cara tanam padi jajar legowo merupakan salah satu teknik produksi yang memungkinkan tanaman padi dapat menghasilkan produksi yang cukup tinggi serta memberikan kemudahan dalam aplikasi pupuk dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Padi yang merupakan tanaman pangan utama penduduk, sebagian besar diproduksi di lahan sawah. Belum optimalnya produktivitas padi lahan sawah antara lain karena serangan hama, penyakit dan gulma. Melalui perbaikan cara tanam padi dengan sitem jajar legowo diharapkan selain dapat meningkatkan produksi, pengendalian organisme pengganggu dan pemupukan mudah dilakukan.

Pengertian
Jajar Legowo 2 : 1 (40 cm x (20 cm x 10 – 15 cm)) adalah salah satu cara tanam pindah sawah yang memberikan ruang (barisan yang tidak ditanami) pada setiap dua barisan tanam, tetapi jarak tanam dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm tergantung dari kesuburan tanahnya.
Pada tanah yang kurang subur kebiasaan petani tanam cara tegel 20 cm x 20 cm, menggunakan jarak tanam dalam barisan 10 cm. Pada tanah dengan kesuburan sedang kebiasaan petani tanam cara tegel 22cm x 22 cm, jarak tanam dalam barisan 12, 5 cm. Pada tanah yang subur 25 cm x 25 cm, jarak tanam dalam barisan 15 cm.
Tujuan
Tujuan dari cara tanam jajar legowo 2 : 1 adalah :
  1. Memamfaatkan radiasi surya bagi tanaman pinggir.
  2. Tanaman relatif aman dari serangan tikus, karena lahan lebih terbuka.
  3. Menekan serangan penyakit karena rendahnya kelembaban dibandingkan dengan cara tanam biasa.
  4. Populasi tanaman bertambah 30 %.
  5. Pemupukan lebih efisien.
  6. Pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah dilakukan daripada cara tanam biasa.
Teknik Penerapan
a. Pembuatan baris tanam
Lahan sawah yang sudah siap ditanami, 1 – 2 hari sebelum tanam air dibuang sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Tujuan air dihilangkan adalah untuk dapat membentuk garis-garis tanam secara jelas. Dengan menggunakan alat pembuat garis jajar legowo 2 : 1 (Atajale 2 : 1), dibuat garis tanam 40 cm x ( 20 cm x 10 cm) dengan cara menarik atajale pada lahan yang akan ditanami. Arah baris tanam sebaiknya sesuai dengan arah aliran air pegairan.
b. Tanam
Bibit padi umur kurang dari 21 hari sebanyak 1-2 bibit ditanam pada perpotongan garis-garis yang terbentuk, dengan cara maju atau mundur sesuai kebiasaan regu tanam.
Teknik Pemeliharaan Tanaman
a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan secara alur pada tempat yang berjarak 20 cm dan posisi yang memupuk pada tempat yang berjarak 40 cm. Dengan cara ini hanya 40 % dari lahan yang diberi pupuk dan pupuk terkosentrasi sepanjang tempat yang berjarak 20 cm, serta pupuk lebih dekat denga perakaran sehingga dapat dimamfaatkan oleh tanaman secara maksimal.
b. Penyiangan
Pada cara tanam ini penyiangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan landak/osrok cukup satu arah yaitu searah dalam barisan dan tidak perlu dipotong sepertimpada cara tanam bujur sangkar (2 arah). Jarak tanam dalam barisan 10 cm tidak perlu dilakukan penyiangan karena gulma akan kalah berkompetisi dengan pertumbuhaan tanaman padi. Dengan cara tanam ini, biaya penyiangan dapat di tekan sampai 50 %.
c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Adanya lorong-lorong yang berjarak 40 cm sinar matahari dan sirkulasi udara dapat berjalan optimal dan kelembaban dapat ditekan sehingga perkembangan hama/penyakit dapat diminimalisir. Disamping itu, kegiatan pemamtauan dan pelaksanaan pengendalian penyakit dapat lebih mudah dilaksanakan.

  • pemberantasan hama keong pada tanaman padi

    Bila terjadi serangan keong mas, sawah perlu segera dikeringkan, karena keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air. Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka pada 15 hari setelah tanam pindah sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitter irrigation). Bila padi ditanam dengan system sebar langsung, selama 21 hari setelah sebar, sawah perlu dikeringkan, kemudian digenangi lagi secara bergantian.
    Selain itu, perlu dibuat caren di dalam dan di sekeliling petakan sawah sebelum tanam, baik di musim hujan maupun kemarau. Ini dimaksudkan agar pada saat dilakukan pengeringan, keong mas akan menuju caren sehingga memudahkan pengambilan keong mas dan sebagai salah satu cara pengendaliannya.
    Keberadaan keong mas di lapang ditandai oleh adanya telur berwarna merah-muda dan keong mas dengan berbagai ukuran dan warna. Keong mas merupakan salah satu hama penting yang menyerang padi muda terutama di sawah yang ditanam dengan sistem tabela. Untuk mengatasi perkembangan hama keong mas ini secara luas perlu dilakukan pengendalian yang tepat dan efektif, sehingga perkembangan keong mas dapat ditekan sampai berada dibawah ambang ekonomi. Beberapa teknologi pengendalian yang dapat dilakukan yaitu pengendalian secara mekanik, pengendalian secara biologi dan pengendalian secara kimia.
    Secara mekanik yaitu pemberantasan hama keong mas dilakukan dengan : (a) pemungutan secara berkala 3 kali seminggu dan dihancurkan serta telur dihancurkan dengan kayu/bambu; (b) menggunakan saringan berukuran 5 mm mesh yang dipasang pada tempat air masuk di pematang untuk meminimalkan masuknya keong mas ke sawah dan memudahkan pemungutan dengan tangan; (c) metanam bibit umur > 21 hari dan tanam lebih dari satu bibit per rumpun; (d) buat caren di dalam dan di sekeliling petakan sawah.
    Secara biologi yaitu pemberantasan hama keong mas dengan melepas itik dan membuat perangkap telur.
    Secara kimia yaitu pemberantasan hama keong mas dilakukan dengan menggunakan pestisida yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris, dan saponine. Aplikasi pestisida dapat dilakukan di sawah yang tergenang di caren atau di cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul.
    Beberapa Keuntungan dari Pengendalian Hama Keong mas
    a. Dapat menghindari kerusakan tanaman terutama di persemaian, tanaman muda dan anakan produktif.
    b. Dapat menghindari kerusakan lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.
    c. Dapat mengoptimalkan produksi padi sesuai dengan daya dukung lahan.

pengendalian hama wereng dengan penggerek batang padi
 carilah bahan aktif klorantaniliprol yang murah  pada hari keempat setelah terjadi penerbangan kupu.   klorantaniliprol, cari yang murah jangan yg mahal....
HAMA-HAMA PADA TANAMAN PADI
Padi merupakan makanan bahan makanan pokok bagi rakyat Indonesia. Sebagian masyarakat kita ada yang menggunakan bahan makanan pokok yang lain seperti sagu, jagung dan sorghum. Akan tetapi padi lebih dominan dan lebih popular dibanding dengan bahan makanan pokok yang lain meskipun harganya lebih mahal.
Untuk menciptakan padi yang bagus maka diperlukan juga bibit yang unggul dan juga program penanaman padi yang bagus. Namun dengan adanya bibit baru tersebut menimbulkan munculnya hama-hama tanaman baru. Hama dan penyakit padi sangat beragam, disamping faktor lingkungan (curah hujan, suhu dan musim) sangat mempengaruhi terhadap produksi padi. Hama padi sangat mempengaruhi produksi padi dan kualitas padi. Hal ini menyebabkan para petani kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Maka dari itu harus dilakukan penyuluhan mengenai hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi.
Berikut ini adalah beberapa hama-hama yang menyerang tanaman padi menurut Kartaspoetra pada tahun 1993, antara lain sebagai berikut:
  1. Hama Sundep
Hama dengan nama latin Scirpophaga innotata berkembang di daerah pantai dan pedalaman yang memiliki ketinggian 200 meter di atas permukaan laut. Hama ini muncul dari telur-telur yang dibawa oleh kupu-kupu kecil bewarna putih. Kupu-kupu tersebut melakukan invasi ketika musim hujan yang terjadi pada bulan Oktober-November. Telur-telur itu menetas menjadi ulat yang merusak padi.
Hama ini menyerang daun padi muda yang menyebabkan daun menguning dan lama-lama akan mati. Untuk membasmi hama ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut:
  1. Menghancurkan dan memberantas telur sebelum menetas.
  2. Disemprot dengan obat pestisida.
  1. Ulat penggerek
Ulat penggerek atau Scahunobius bipunctifer adalah hama yang merusak batang padi yang masih muda yang lunak. Cara untuk membasmi hama ini adalah dengan cara menggunakan obat insektisida.
  1. Hama Wereng coklat
Nama latin dari hama wereng coklat adalah Nilapervata lungens. Hama ini selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir-bulir buah padi yang masih lunak. Hama wereng hidup di habitat yang lembab, gelap dan teduh. Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida dan membasmi bibit-bibit wereng dengan membakarnya.
  1. Hama Wereng hijau
Hama yang memiliki nama latin Nephotettix apocalis ini merusak kelopak dan urat-urat pada tanaman padi. Hama wereng hijau mempunyai alat penghisap yang kuat pada moncongnya.
Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan obat insektisida, rotasi tanaman, pembunuhan hama dan perangkap lampu jebak.
  1. Lembing hijau
Lembing hijau memiliki nama latin Nezara viridula dan berkembang di daerah beriklim tropis. Hama lembing hijau hidup dengan berkoloni. Serangan hama ini tidak sampai menghampakan padi, namun dampaknya membuat kualitas padi menjadi jelek. Hama ini dapat dibasmi dengan menggunakan insektisida sesuai aturan.
  1. Walang sangit
Walang sangit adalah binatang yang memiliki bau menyengat. Hama ini hidup bersembunyi di rerumputan dan berinvasi pada tanaman padi muda ketika berbuah. Pembasmian hama ini dilakukan pada malam hari menggunakan lampu petromak dengan umpan katak, ketan dan memanfaatkan insektisida.
  1. Hama putih
Hama ini mempunyai nama latin Nymphula depunctalis. Hama putih menyerang dan bergelantungan pada daun padi hingga daun berwarna keputih-putihan. Hama ini memiliki sifat semi aquatil (menggantungkan hidup pada air untuk bernafas dengan udara). Pembasmian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida yang ramah lingkungan.
  1. Ganjur
Hama yang memiliki nama latin Pachydiplosis oryzae berkembang di daerah persawahan di China, India, dan Asia Tenggara. Hama ganjur menyerang tanaman padi yang penanamnya terlambat, sekitar bulan Februari dan April. Hama ini meletakkan telur-telurnya pada kelopak daun padi. Telur-telur tersebut nantinya akan menjadi larva yang bergerak menuju dan memasuki batang padi. Hama tersebut menyerang padi dengan membuat daun menjadi selongsong dan lama-lama padi akan mati dikarenakan tidak dapat berfotosintesis. Cara untuk mengatasinya adalah dengan mengatur pengairan jangan sampai padi terendam dan disinari dengan lampu petromak. Untuk pembasmian hama ganjur dapat disemprot menggunakan pestisida dengan dosis tepat secara teratur.